Antibiotik vs Demam


Pada saat Fabian demam, berat rasanya untuk memberikan antibiotik kepadanya. Ini adalah pertama kalinya Fabian mengkonsumsi obat antibiotik. Beberapa hal yang membuat saya sangat anti dengan tipe obat ini, yaitu:

  1. Tidak semua demam itu membutuhkan antibiotik. Namanya juga anti biotik, artinya hanya dapat mengobati penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Bila anak demam, ada kemungkinan hanya terinfeksi oleh virus/selain bakteri lainnya. Jadi bila terlalu cepat memberikan antibiotik, tanpa analisa penyebab infeksinya, maka ada kemungkinan anak memakan obat yang sebenarnya tidak perlu.
  2. Ketergantungan terhadap antibiotik: Bila anak sudah diberikan antibiotik, maka bila sakit kembali akan membutuhkan antibiotik utk sembuh
  3. Antibiotik yang aman untuk anak (amoxilin) mengandung penisilin. Kebetulan mama saya alergi terhadap penisilin, jadi ada kemungkinan Fabian juga alergi.

Berikut adalah kutipan dari salah satu blog dengan judul post ” antibiotik dan demam”. Tapi berhubung linknya lupa dicopy, saya tidak bisa taruh deh (maaf ya..) Sumber artikelnya di website sehatgroup tentang antibiotik dan demam.

ANTIBIOTIKA
Arti antibiotika
Antibiotika = anti + bios (hidup/kehidupan)
Antibiotika adalah substansi atau zat yang bisamembunuh/melemahkan mikroorganisme/jasad renik (bakteria, parasit)

Efek pemakaian antibiotika
Tubuh kita penuh dengan kuman baik yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan kita.
Pemakaian antibiotika yang membabi buta akan membunuh kuman baik di tubuh kita.
Sebagian besar penyakit infeksi pada anak-anak disebabkan oleh virus.
Antibiotika tidak dapat membunuh virus dan tidak mempercepat penyembuhan infeksi virus.

Virus ato bakteri?
Selesma dan flu disebabkan oleh virus dan bisa menyebabkan penumpukan cairan di rongga telinga tengah.
Sebagian besar batuk dan radang tenggorokan juga disebabkan oleh virus.
Bronkitis akut juga disebabkan oleh virus.
Pada keadaan-keadaan di atas, termasuk juga pada sebagian besar sinusitis, antibiotika TIDAK diperlukan.

Kapan antibiotika diperlukan?
Infeksi telinga yang tidak terkait flu/selesma
Infeksi sinus yang berat (>2 minggu sakit kepala hebat, wajah bengkak)
Radang tenggorokan akibat kuman streptokokus
Infeksi saluran kemih

Tifus
Tuberkulosis
Diare akibat amoeba

Resistensi antibiotika
Konsumsi antibiotika secara tidak bijak akan memposisikan kita pada kondisi yang berbahaya yaitu meningkatkan risiko terjadinya resistensi antibiotika di kemudian hari.
Semakin sering mengkonsumsi antibiotika, semakin besar kemungkinan terinfeksi bakteri resisten antibiotika yang berarti semakin sering jatuh sakit.
Infeksi bakteri resisten antibiotika menyebabkan penyakit lebih susah disembuhkan, sakit lebih lama, butuh antibiotika lebih kuat (lebih toksik), dan butuh biaya pengobatan lebih mahal.

Bagaimana mencegah resistensi antibiotika?
Dokter:
– Cuci tangan setiap selesai memeriksa pasien.
– Jangan mengabulkan permintaan pasien akan antibiotika untuk infeksi virus flu dan kondisi lain yang tidak membutuhkan antibiotika *lah kalo yang ngasih dokternya sendiri gimana dong?*
– Resepkan antibiotika sesuai dengan kuman sasaran, jangan langsung meresepkan antibiotika dalam spektrum luas *naah… ini yang gak dijalankan semua dokter*
– Isolasi pasien yang terinfeksi bakteri resistensi antibiotika.
– Ketahui informasi terbaru tentang pola kuman dan kuman yang telah resistensi antibiotika.
Pasien:
– Jangan menuntut dokter meresepkan antibiotika. Antibiotika bukan obat dewa.
– Antibiotika termahal dan terkuat bukan berarti yang terbagus.
– Jika perlu antibiotika gunakan sesuai dosis yang dianjurkan dan jangan menyimpan antibiotika.
– Cuci tangan untuk engurangi penularan
– Cuci buah dan sayur, masak telur dan daging sampai matang.
– Jangan menggunakan sabun, detergen, pembersih lantai, atau lotion yang menganduk antiseptik. Kuman di rumah adalah kuman baik , antiseptik bisa membuat kuman baik menjadi jahat.

DEMAM
Fever is part of growing up.
Deman bukanlah penyakit tapi merupakan alarm alami tubuh karena bertujuan memerangi infeksi.
Penyebab utama demam pada anak dalah infeksi, terutama infeksi virus.
Anak sering demam karena sangat rentan terhadap infeksi virus seperti flu, pilek, dan diare.
Demam merupakan salah satu mekanisme pertahanan tubuh untuk menyingkirkan virus penyebab infeksi. Virus akan mati pada suhu tinggi dan tumbuh subur pada suhu rendah.
Jangan mengandalkan perabaan untuk mengukur suhu tubuh karna tidak akurat. Pakailah termometer *secara anak2 udah tambah gede dan tambah susah di termo, Beli deh termo kuping

Komplikasi demam
– Dehidrasi.
– Kejang demam. 1 dari 30 anak deman mengalami kejang demam terutama pada usia 6 bulan – 5 tahun. Serangan terjadi dalam 24 jam pertama demam. Umumnya sebentar dan tidak berulang dan tidak membahayakan otak.
What to do?
– Tidak panik
– Amati perilaku anak. Apabila anak masih riang dan mau bermain, ortu tidak perlu cemas.
– Cegah dehidrasi dengan minum, minum, dan minum. (air, air sup, jus buah segar yang dicampur air es, es batu, es krim, dll)
– Bila sering muntah atau diare, beri minuman elektrolit seperti pedialyte dan oralit.
– Jangan beri penurun panas bila demam tidak tinggi karna virus tumbuh subur di suhu rendah.
– Biarkan anak memakan apa yang dia inginkan, jangan dipaksa. Hindari makanan berlemak yang sulit dicerna.
– Tepid sponge (seka tubuh dengan air hangat)

Kapan ke dokter?
– Bila bayi berusia❤ bulan  suhu tubuh>38 derajat Celcius.
– Bila bayi berusia 3-6 bulan suhu tubuh >38.50 derajat Celcius.
– Bila bayi berusia >6 bulan suhu tubuh >40 derajat Celcius.
– Tidak mau minum atau sudah dehidrasi
– Iritabel atau menangis terus menerus dan tidak bisa ditenangkan.
– Tidur terus menerus dan tidak bisa dibangunkan.
– Kejang
– Kaku kuduk leher
– Sesak napas
– Gelisah
– Muntah dan diare
– Sakit kepala hebat

Jenis obat penurun panas
– Asetaminofen (parasetamol) paling aman dengan syarat dosisnya tidak berlebihan.
– Ibuprofen dapat menyebabkan pendarahan lambung. Tidak boleh diberikan pada anak diare/muntah karena dapat merusak ginjal.
– Asetosal/aspirin dapat menimbulkan pendarahan lambung dan sindroma Reye (tidak boleh diberikan untuk anak usia <12 style=”font-style: italic;”>Important

Notes
– Jangan berikan 2 macam obat penurun panas karna risiko efek samping meningkat.
– Tujuan memberikan obat penurun panas bukan untuk menormalkan suhu tubuh melainkan untuk sedikit menurunkan suhu tubuh agar lebih nayman (pain killer).
– Tingginya deman bukan berarti penyakitnya semakin parah.

Semoga  berguna dan membuat kita menjadi lebih bijak dalam menghadapi demam dan antibiotik

7 responses to “Antibiotik vs Demam

  1. wow, nice to know that…panjang juga post nya, si vie aja yang suruh baca deh detilnya hohoho
    Tapi emang tuh antibiotik efeknya gak bagus
    Ada satu efek samping lain…gigi kuning, kayak gigi gue, udah di bawa ke dokter beberapa kali waktu g kecil, dan kesimpulan semua dokter sama = kebanyakan antibiotik…nasib anak apoteker gini deh :p

  2. Sekarang jadi orang tua harus lebih jeli dan pintar. Banyak sekali dokter anak yang “didekati” oleh marketing obat/vitamin. Alhasil, mereka dengan mudahnya memberi obat atau vitamin.
    Padahal, kalau dari kecil sudah terbiasa minum obat, maka tubuh akan kehilangan kemampuan utk membangun imunitas/daya tahan tubuh.
    So be alert.. choose the right pediatrics

  3. Ya, neh…. jadi ada yang menjadi pertanyaan:
    1. Bagaimana membedakan penyakit karena kuman atawa karna virus. Misal, anak demam tinggi….. batuk disertai flu…… Kecuali ke Lab, ada pilihan gak…….. kita mengetahui secara fisik….
    2. Kalau gak pake antibiotik, sementara kita gak tau kena kuman atawa tidak….. toleransi kita sampai titik mana…… pada suhu berapa…. dan berapa hari kita harus bertahan untuk tetap membiarkannya agak panas atawa cuma minum parasetamol aja…..

    thanks untuk pencerahannya…..

    Kadang susah menentukan demam karena apa…. tanya ke dokter….. eh sama aja…… ooo…ini cuma flu biasa…. dikasih antibiotik …………. pas tanya ke apoteker…. o ini ada campuran untuk tipesnya juga…. Lha bingung kan………. tadi katanya flu biasa…. tapi kok di kasih antibiotik… malah ada kandungan untuk tipesnya segala…..

    • hai Abak salam kenal,
      kalau sepengetahuan saya, kita tidak bisa mengetahui penyakit disebabkan oleh bakteri atau virus hanya dari fisik. Bahkan dokterpun beberapa kali mengatakan kepada saya kalimat seperti ini, “bila demamnya tidak turun dalam 2 hari, berarti harus pake antibiotik”, atau “kalau masih kembung dalam 3 hari, berarti penyebabnya bakteri dan harus pake antibiotik”. Jadi yah.. memang harus di tes kalau mau benar2 tahu.

      Lalu untuk yang tidak pakai antibiotik, sepertinya tergantung dari banyak faktor, termasuk daya tahan anak. Yang masalah adalah pemberian antibiotik sendiri, kadang tidak tepat..masa dari demam saja, langsung diberi antibiotik, padahal belum tentu penyebabnya adalah bakteri..

      Jadi yang mungkin saya sarankan adalah pintar-pintar memilih dokter anak. Saya sendiri termasuk yang tidak suka memberi obat pada anak, bila tidak terlalu parah. Jadi kalau ketemu dokter yang langsung kasih antibiotik.. wah.. saya ga bakal balik lagi dah..🙂

  4. Saudara2 ku..kalau pingin tau betul masalah antibiotika..tanyakan orang yg paling ahli yaitu apoteker.

    • dear dualima,
      thank you untuk commentnya.. betul sekali kalau mau dapat jawabannya paling akurat, ya harus dari ahlinya. Ahli yang dimaksud disini adalah yang beretiket pastinya.. bukan yang mempunyai motif untuk keperluan pribadi, memberikan rekomendasi yang tidak sesuai dengan keahliannya..

      Semoga setidaknya dengan sedikit sharing disini, kasus pembohongan konsumen dapat dikurangi, karena konsumen akan lebih kritis bertanya🙂

  5. Wahh, maaksih banget ya artikelnya. Lengkap bgt. Baru tau, kalo jangan pake bahan antiseptik untuk rumah, karena malah bikin kuman baik jadi jahat. Selama ini saya pake segala antiseptik di rumah, makasih ya untuk pencerahannyaa.
    Oya, kalo untuk dokter ngasih antibiotik biasanya obatnya ga aku tebus bagian antibiotiknya. Kalo ntar tnyata nampak makin parah sakitnya, baru deh beli tu resep. Ahamdulillah selama ini ga pnah tambah parah walau tanpa antibiotik. Kecuali waktu pas diare parah, ya itu sih langsung masuk RS dan kena antibiotik dsana karena udah lemas banget anakku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s