Strategi memberi makanan sehat pada si kecil


Berikut adalah artikel hasil temuan saya pada saat sedang frustasi dengan Fabian yang tidak mau makan… saya ambil dari web parenting http://www.parenting.co.id/article/article_detail.asp?catid=3&id=14


Suatu hari, saya mengobrol dengan rekan saya, Tengku Asra, yang tinggal di Pondok Indah. Ia  berniat memindahkan anaknya dari kelompok bermain gara-gara dia dan suaminya melihat pemandangan yang cukup ‘mengganggu’.  “Banyak anak di sekolah itu yang kegemukan!” ujar Asra. Mereka tak mau anaknya, Hamzah, menganggap obesitas sebagai hal yang wajar.
Saya jadi tertarik nih. Saya tahu benar kalau kegemukan yang terjadi sejak kanak-kanak bisa berlanjut hingga dewasa kelak. Ujung-ujungnya ya membawa mereka pada seabrek masalah kesehatan. Di bawah ini, cara-cara untuk membantu anak agar bobotnya tetap ideal (plus hidupnya lebih baik dong!) serta pertanyaan yang sering muncul:

Kelihatannya, si kecil (1 tahun)
akan gemuk seperti kakaknya.
Bisakah dicegah sejak dini?

Berbeda dengan orang dewasa, anak memerlukan nutrisi dan kalori tambahan sebagai ‘bahan bakar’ untuk tumbuh kembang. Meski begitu, tetap saja kalori yang masuk dan kalori yang keluar harus seimbang. Inilah tipnya agar berat anak selalu terjaga:

Latih kepekaan rasa mereka. Kalau anak dibiasakan makan yang sehat-sehat, pola ini akan terbawa sampai nanti. Makanya, mulailah membentuk kebiasaan ini sejak dini.
Hanya sajikan makanan yang sehat. Misalnya, perbanyak sayur dan buah, batasi asupan gula (coret minuman yang diberi pemanis buatan dalam daftar belanja!), olahlah makanan secara sehat (lebih banyak yang dipanggang atau direbus ketimbang digoreng), dan sebagainya.  
Lupakan aturan ‘habiskan makananmu’. Anak harus belajar berhenti makan begitu kenyang. Jika ia harus selalu menghabiskan apapun (padahal perutnya sudah tidak muat lagi), Anda bakal kerepotan untuk menyuruhnya berhenti makan nantinya! Catatan: Tak perlu menyediakan makanan yang berlebihan. Kalau masih lapar, si kecil pasti minta lagi kok. 
Siasati acara makan bersama. Penelitian membuktikan, keluarga yang selalu makan bersama, minimal 1 kali sehari, akan mengonsumsi makanan yang lebih bergizi dibandingkan me-reka yang tidak melakukannya. Yang penting, jangan hidangkan semua makanan di atas meja, melainkan taruhlah makanan (yang lengkap dan sesuai kebutuhan) di piring masing-masing. Juga, aturlah agar acara makan ini berlangsung paling lama sekitar 30 menit.

Anak saya menolak makan
berbagai makanan sehat.
Bagaimana cara memotivasinya?

Inilah masalah yang paling umum (dan bikin pusing) para orangtua. Bisa kok disiasati. Caranya sebagai berikut:
Pamerkan kebiasaan sehat Anda. Anak adalah peniru ulung. Makanya, Anda (plus suami) harus kompak dan membuat si kecil selalu melihat Anda berdua menikmati makanan yang baru dan sehat. Catatan: Jika Anda tak suka makanan tertentu (padahal itu baik untuk anak), berpura-puralah menikmatinya. Selera Anda bisa berkembang lho. Bisa-bisa Anda malah jadi penggemar berat makanan tersebut kelak.   
Buatlah makanan sehat sebagai satu-satunya pilihan. Kosongkan kulkas dan lemari dari makanan yang tidak sehat, serta hanya siapkan makanan bergizi seimbang pada waktu makan bayi. Begitu lapar, mau tidak mau anak akan makan makanan yang disediakan.
Perkenalkan makanan baru setiap minggu. Jika awalnya anak tidak mau menyentuh makanan, cobalah lagi, lagi, dan lagi. Bila perlu, sajikan makanan tersebut sampai 10 kali sebelum si kecil tergerak untuk mencicipinya. Penelitian  membuktikan, anak akan menerima makanan yang semula ditolaknya, setelah terekspos makanan tersebut sampai 10-15 kali. Jadi, jangan memaksa dan jangan cepat-cepat menyerah ya! 
Biarkan anak memilih. Berikan daftar makanan yang terbaik bagi anak, lalu biarkan ia memilih 2-3 jenis makanan yang paling disukainya. Anak pasti akan menghabiskan makanan yang dipilihnya sendiri.
Tambahkan saja sesuatu. Beberapa sayur (misalnya brokoli atau bayam) mengandung suatu zat, sehingga terasa pahit. Untuk menetralisir rasa pahit tersebut, tambahkan garam, gula, lelehan keju di atasnya, dan sebagainya.

Si 3 tahun saya selalu buru-buru
menelan makanannya.
Apa jalan keluarnya?

Ini memang sering terjadi pada anak. Namun, anak harus belajar makan secara perlahan-lahan dan tidak sekaligus. Kalau tidak, bisa-bisa ia tidak dapat mengerem makannya. Perut memerlukan waktu untuk memberitahu otak kalau ‘kapling’ yang ada sudah penuh. Makanya, Anda harus benar-benar mengatur porsi makanan si kecil. Ini triknya:
Potonglah makanan dalam ukuran kecil. Juga, berikan garpu khusus anak-anak. Cara ini akan membuatnya terbiasa mengunyah makanan yang lebih kecil.
Ajaklah ngobrol. Ketika makan bersama, tanyakan ber- bagai hal pada anak. Misalnya, aktivitasnya pada hari itu, apa yang dilakukan babysitter, dan sebagainya. Dengan menjawab pertanyaan Anda, mau tidak mau ia akan memperlambat tempo makannya. Katakan pula, bahwa ia harus makan perlahan-lahan, sebab ini adalah bagian dari pelajaran sopan santun.
Jadikan ajang permainan. Misalnya, ajak anak berlomba mengunyah. Ia harus menghunyah nasi sampai 10 kali dan lain-lain. Selain seru, tantangan seperti ini akan membuatnya tidak terburu-buru mengunyah makanan.

Mengapa minum air
penting bagi anak?

Anak harus banyak-banyak minum agar bisa melakukan ber-bagai aktivitas sehari-hari. Apalagi, jika udara sedang panas-panasnya.
Minum air is a must. Anak yang masih kecil gampang sekali dehidrasi alias kekurangan cairan tubuh, sebab ia terlalu ‘sibuk’ beraktivitas (bermain). Saking asyiknya, ia sering lupa atau malas minum. Begitu sadar, ternyata sudah terlambat. Ia sudah keburu dehidrasi. Makanya, ajarkan anak untuk sering-sering minum. Catatan: Kekurangan cairan bisa membuat si kecil kelelahan atau pusing.
Pilih-pilih air minum. Air memainkan peran vital dalam tubuh. Di antaranya adalah membantu tubuh menjalankan fungsinya dengan baik. Makanya, air putih harus selalu jadi pilihan utama ketika si kecil haus. 
Siapkan alternatif lain. Kekurangan cairan dalam tubuh si kecil bisa pula diatasi dengan membe-rinya buah yang banyak mengandung air (misalnya semangka), sup, dan sebagainya. Catatan: Batasi konsumsi minuman manis yang berlebihan, sebab ini merupakan penyebab utama kegemukan pada anak. Hindari pula memberinya minuman bersoda yang mengandung kafein, karena kafein akan membuat anak sering-sering pipis dan kehilangan cairan tubuh (padahal ia perlu cairan untuk tubuhnya).
Letakkan air di tempat yang terjangkau. Sediakan botol khusus untuk si kecil dalam kulkas. Begitu haus, ia sudah tahu tempat yang harus ditujunya.

Mungkinkah si kecil
bisa tetap makan sehat di restoran?

Ini merupakan tantangan berat, sebab kebanyakan makanan yang tersedia dalam restoran (yang disukai oleh anak-anak) tinggi lemak, gula dan garam. Meski begitu, berikut ini beberapa hal yang bisa Anda lakukan:
Lupakan menu anak-anak. Seringkali, menu ini berisi junk food. Jadi, berikan si kecil menu orang dewasa, namun ia berbagi porsi dengan Anda. Dengan begitu, Anda berdua sama-sama tidak bakal kelebihan kalori atau lemak.
Buatlah pilihan cerdas. Pesanlah makanan yang dipanggang, direbus, dikukus, atau ditim. Kalaupun ingin makan daging (pilih yang bebas lemak) atau ikan. Jangan lupa, pesan juga menu yang mengandung sayur atau hidangan penutup berupa buah segar.
Bawa makanan anak dari rumah. Untuk jaga-jaga saja. Mungkin saja, anak tiba-tiba rewel karena tidak suka (tidak cocok) dengan makanan yang Anda pesan. Dengan begitu, waktu makannya tidak terlewatkan dan ia tetap bisa mengonsumi makanan yang sehat.

Selain memberi makanan sehat,
bagaimana cara menjaga anak agar tetap sehat?

Gampang saja kok. Ajak anak keluar rumah dan Anda harus membuatnya senang
Awalnya, main-main dulu! Misalnya, ajak anak bermain perang bantal, kejar-kejaran, main petak umpet, lompat tali, atau permainan lain yang cukup menguras energi. Bila perlu, adaptasi permainan ‘tradisional’ sesuai keterampilan mereka. Misalnya, bermain ‘tenis’ dengan memanfaatkan balon dan raket bulutangkis.
Doronglah agar mau bergerak. Misalnya, sambil nonton acara favoritnya, minta anak untuk mengikuti gerakan tokoh tersebut. Katakan padanya, sering-sering menggerakkan tubuh amat menyehatkan lho. Biar si kecil makin bersemangat, Anda ikut-ikutan bergerak ya. 
Selalu ciptakan aktivitas baru. Anak paling senang mencoba hal baru. Makanya, Anda harus selalu kreatif dan tidak membatasi tempat beraktivitas. Misalnya, sesekali ajak anak bermain basket dengan cara memasukkan bola ke ember atau keranjang yang besar. Ia pasti senang, sebab bisa melakukannya bersama Anda.
Terus tanamkan rasa cinta pada olahraga. Ada banyak jenis olahraga yang bisa dilakukan sesuai keterampilan dan umur anak. Misalnya, si 2-3 tahun terlalu kecil untuk olahraga terstruktur serta baru menguasai gerakan dasar, seperti berlari, menangkap dan melompat. Olahraga yang pas untuknya: Jungkir balik, kejar-kejaran, main air (di bawah pengawasan Anda), dan sebagainya. Intinya, olahraga tuh benar-benar fun. Setelah usia 6 tahun, keterampilan motorik kian terasah dan sudah tahu bahaya. Ia sudah siap untuk olahraga tim.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s