Separation anxiety.. so hard for mom!


“separation anxiety” yang terjadi pada Fabian hanya sebatas ketika saya mengantar dia sekolah..Sulit sekali melihat dia setiap hari menangis pada saat saya menyerahkannya dari gendongan saya ke gendongan gurunya.

Murid lain yang saya amati tidak mengalami hal yang sama. Meraka terlihat begitu mudah melepas kepergian mamanya setelah beberapa hari atau max 1 term. Tapi Fabian, setelah sekolah 10  minggu, masih belum dapat merelakan kepergian saya. Kadang dia hanya merenggut, tapi kebanyakan dia menangis sekeras2nya.

Yang aneh adalah, setelah beberapa menit dari kepergian saya, dia akan berhenti menangis, lalu mulai bermain dengan gurunya.. Memang pada saat parents conference yang pertama, guru Fabian mengatakan bahwa Fabian is a slow starter. Bila sudah memasuki sesi main ke playground yang kedua, dia akan semangat dan ceria..

Hampir setiap hari kerja, saya harus melihat muka histerisnya dengan derai air mata. Sebagian hati saya merasa kasihan (makes me felt like a cruel mom!).  Saya melaju mobil dengan hati yang kacau, berharap dia berhenti menangis secepatnya.

Sesekali, saya menyempatkan diri melihat bermain, tertawa dikelas, saya bercampur senang, tidak percaya, melihat hal yang begitu bertolak belakang dengan kejadian di pagi harinya.

Setelah saya renungi.. dan renungi.. mungkin ini yang menjadi masalah:

Saya tidak benar-benar percaya bahwa sekolah yang saya pilih adalah tempat terbaik untuk anak saya. Walau saya melihat bahwa sekolah ini tidak sempurna, tapi adalah yang terbaik diantara nominasi lainnya.  Akibatnya, secara emotional ada sedikit kekhawatiran yang terbesit (walau secara logika sudah sangat yakin). Karena kemampuan luar biasa dari anak untuk merasakan apa yang mamanya rasakan, dia menjadi khawatir juga.

Jadi sebelum saya menanyakan “apa yang salah dengan anak saya? “, saya akan mencoba menelaah  “apa yang salah dengan saya?”

Hasil searching yang pikir sangat membantu adalah:

http://kidshealth.org/parent/emotions/feelings/separation_anxiety.html#

      • Be calm and consistent. Create a exit ritual during which you say a pleasant, loving, and firm goodbye. Stay calm and show confidence in your child. Reassure him or her that you’ll be back — and explain how long it will be until you return using concepts kids will understand (such as after lunch) because your child can’t yet understand time. Give him or her your full attention when you say goodbye, and when you say you’re leaving, mean it; coming back will only make things worse.
      • Follow through on promises. It’s important to make sure that you return when you have promised to. This is critical — this is how your child will develop the confidence that he or she can make it through the time apart.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s