Menjadi dewasa…


Pernahkah anda berpikir kalau saat ini, anda sebenarnya sudah layak dikatakan sebagai manusia yang dewasa? mungkin uban sudah mulai tampak dikepala, kulit sudah mulai tidak semulus beberapa waktu lalu, dandan-an pun sudah menunjukkan bahwa “saya sudah dewasa”.

But..  deep down in yourself.. your attitude, your behaviour, your EQ  and your way of thinking… are they reflect your physical age?

Saya sendiri merasa 2 tahun terakhir menjadi tahun dimana saya mengalami proses pendewasaan… saya sekarang dapat melihat dengan jelas, bagaimana manusia secara insting memiliki kecenderungan untuk egois. Sifat dasar ini yang menjadi sumber dari semua kekacauan di dunia..

Kalau semua orang didunia sudah dewasa sesuai dengan umur biologisnya, dunia akan damai dan tentram. Masalahnya kedewasaan secara mental bukan sesuatu yang diajarkan disekolah dan tidak dapat diukur dengan jelas.. belum lagi masalah Emotional intelligence yang masih rendah.. semua berdasarkan emosi.. bukan hasil dari pemikiran..

Saya teringat pertama kali saya mengetahui bahwa saya dipercayai oleh Tuhan untuk mengandung seorang bayi kecil.. saya sempat bertanya pada teman saya.. apa saya sanggup untuk jadi seorang Ibu? Kok kalau dipikir-pikir, walau sudah menikah, sudah punya kerjaan tetap, tapi kok pemikiran tidak jauh berbeda dengan sewaktu kuliah dulu…Mungkinkah saya menjadi orang tua yang baik?

Teman saya menjawab dengan bijak.. Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang melebihi kemampuan umatnya. Everything is perfect at its time.. lalu dia menambahkan contoh yang agak menyinggung.. katanya anjing dirumah dia saja dapat bertindak berbeda ketika dia melahirkan anak-anaknya. Dia menjadi begitu pelindung dan peduli terhadap anak-anaknya yang baru saja keluar didunia.. aduh.. masa gue kalah sama anjing yah😦

Setelah Fabian berumur 2 tahun, saya mencoba merefleksikan semua pemikiran saya. Ternyata Tuhan benar-benar mendesain agar seorang ibu terlatih menjadi matang pada saat dia melahirkan anaknya. Baik dari segi fisik, lengkap dengan air susu ibu, hormon dan semua insting yang diperlukan untuk menjaga bayi.. termasuk juga dari segi emotional (kalau sebelumnya ibu tidak bisa mengendalikan emosi, dia akan diberi pelajaran untuk semakin dapat mengendalikan emosi dihadapan anaknya) dan terakhir dari segi pemikiran.. (kalau dulu hanya berpikir untuk diri sendiri, sekarang harus berpikir panjang untuk masa depan seluruh keluarga).

Mungkin itulah sebabnya Tuhan mendesain adanya anak dan tanggung jawab orang tua.. untuk mendewasakan manusia.. bahwa setiap manusia memiliki panggilan masing-masing. Syukurilah apa yang dimiliki, dari pada iri hati dengan apa yang orang lain punya.. Anak adalah salah satu contoh yang membuat kita dapat bersyukur.. entah seberapa cape dan emosi saya, saya dapat mengendalikannya bila bertemu dengan wajah tak berdosa Fabian, lengkap dengan senyum yang imut dan menenangkan hati..I Thank God for trust me to raise Fab..I hope he will make me a better person so that I can teach him to be a better better person…

Kalau dunia ingin damai.. semua harus menghormati kepentingan orang lain.. ini berarti semua harus menjadi dewasa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s