Cerita Fabian pertama dirawat di rumah sakit – prehospital.


Berawal dari hari kamis 6 Agustus, pagi hari, saya bangun dan menemukan Fabian berbadan panas.. “Oh tidak” dalam hatiku.. saya langsung memanggil suamiku dan menanyakan apakah dia merasakan panas di badan fab, tapi dia mengatakan, tidak.

Tapi ternyata, termometer menunjukan skala 39 derajat celcius. Hua.. panas!! Profen adalah yang pertama terlintas dikepala, obat panas andalan saya, langsung dikonsumsi oleh Fab. Saya tidak dapat menemukan gejala penyakit lain, sambil berkata kepada suster untuk terus memperhatikan tanda-tanda yang diberikan oleh tubuh fab, saya berangkat kerja.

Jam 10 saya menelpon utk menanyakan, apakah ada tanda dimana letak penyebab panasnya? ternyata belum ada.. Kira-kira jam 11, suster saya mengirim sms.. “tolong pulang, fab panas 40 derajat”. Ternyata senjata andalan saya profen, tidak berhasil! Tanpa pikir panjang, saya minta ijin dan langsung pulang dengan berbekal informasi jadwal praktik dokter anak.

Jam 2 saya berangkat ke jalan sekolah duta V no 64, tempat dr Sander praktik, dengan memberikan proris sebelumnya. Tapi membutuhkan waktu 1.5 jam untuk mengikuti arus lalulintas Jakarta yang super macet dan padat. Perjalanan juga diwarnai dengan beberapa kali salah jalan, melawan jalan 1 arah dan nyasar, entah karena saya lupa, atau otak saya sudah dipenuhi kekhawatiran dengan demam Fab.

Analisa dokter saat itu adalah terkena virus.. tapi blm ada tanda dibagian mana virus menyerang. jadi dia memberikan obat antivirus isopromine, selain itu tempra forte (karena menurut dia tempra tidak menyebabkan iritasi lambung, shg bisa dimakan kapanpun, tapi profen harus sesudah makan) dengan dosis 4 ml per 6 jam (saat itu berat fab 13.4kg). Ditambah pula dengan proris (lewat anus) yang diberikan bila panas diantara waktu pemberian tempra dan L-Bio – probiotik yang biasa diberikan utk membantu pencernaan.

Pulang ke rumah, sebelumnya mampir melihat air mancur di HI (sesuai janji dgn Fab), saya menabrak mobil orang.. untung tidak parah, orangnya tidak menuntut apapun. Sampai dirumah, jam sudah menujukan jam 7 malam. Kami langsung beraksi memberi makan fab dan obat tentunya.

Malam hari, suhu tubuh Fab masih belum turun. Bila dia minum obat, paling baik hanya mencapai 38, kemudian naik lagi ke hampir 40. Mulai jam 8-an, Fabian mulai diare. Dia mengatakan bahwa perutnya sakit, sambil menangis dan berteriak. Aksi buang air ini berlanjut terus menerus sepanjang malam. Kadang hanya air berwarna kuning. Saya nyaris tidak tidur malam itu.

Pagi harinya, fab masih demam. Saya akhirnya memutuskan untuk membawanya kembali ke dokter. Kali ini, suami saya ikut mengantar (mungkin khawatir, saya menabrak orang lagi) dan kami mengambil jalur melalui tol, sehingga dalam waktu 40 menit, kita sudah sampai (I wish I did it yesterday..)

Kami sampai kurang lebih jam 10, setelah menunggu giliran, jam 11-an baru bertemu dengan dr Sander. Kali ini, analisanya adalah Rotavirus. Menurut dokter, penyakit ini membutuhkan kurang lebih 5 hari masa demam dan diare. Kalau dari virusnya sendiri, sebenernya bisa diobati, tapi masalah yang lebih mengawatirkan adalah dehidrasi.

Rule of thumbnya, bila asupan minum lebih banyak atau setidaknya sama dengan yang dikeluarkan lewat diare, maka tidak ada masalah. Tapi sepertinya arus keluar air lebih banyak dari arus masuk. Agak sulit yah meminta anak berumur 2 tahun utk minum air bila dia sedang demam.

Menurut dr Sanders, dehidrasi adalah masalah utama pada diare anak, kadang gejalanya tidak terlihat dan resikonya sangat besar. Untungnya, Fabian tergolong anak kurus, sehingga gejala dehidrasi terlihat lebih jelas. Tapi masalahnya, bila menunggu sampai dehidrasi terjadi, pembuluh darah akan menyempit, sehingga akan semakin sulit untuk memasang infus. hua.. saya ingat dengan pengalaman teman saya, yang anaknya harus di bedah, karena pada saat terkena KTM, para suster tidak dapat memasang infus baik di tangan atau dikakinya.

Jadi alternatifnya adalah membawa Fabian pulang ke rumah, dan memastikan asupan cairan yang cukup atau memasukan ke rumah sakit untuk diberikan infus agar tidak sampai terjadi dehidrasi. dokter sendiri, memberikan keleluasaan kepada kami untuk memutuskan.

Sungguh keputusan yang sulit. bila saya membawa pulang (yang mungkin membutuhkan waktu 1 jam) lalu takutnya hanya bertahan sampai malam, dan bila ternyata terkena gejala dehidrasi, dan akhirnya harus masuk lewat UGD, plus harus bulak-balik RS utk cek feses lagi. Belum lagi besok Sabtu, jadi dokterpun akan ramai sekali dihari sabtu.  Kalau langsung masuk RS, berarti Fab akan di infus, hua… ga kebayang bagaimana melihat jarum infus menusuk kulit Fab dan belum lagi menjaga tangannya agar infus tersebut tidak dicabut. Satu lagi, di rumah sakit adalah gudangnya kuman. Khawatir, bila disana, malah terpapar dengan kuman penyakit lainnya..

Saya dan suami berpikir cukup lama.. menimbang2 resiko dari kedua alternatif tersebut. berhubung tidak ada pilihan yang cukup mengenakkan..

AKHIRNYA, kami memutuskan untuk  masukkan Fab ke RS Brawijaya. (What a hard decision!!)  Alasan pertama, karena dr Sanders, hanya ada di RSPI dan RS Brawijaya. Kedua RS ini khusus ibu dan anak,  at least, penyakitnya lebih terbatas..

The story continue…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s