Apakah aturan itu perlu?


Ada orang yang bilang, “Aturan dibuat untuk dilanggar”. ayo.. siapa yang setuju? pasti yang setuju, pernah mencontek waktu masih disekolah, atau bolos dari kuliah. Tapi tidak perlu khawatir, kayanya semua orang pernah melanggar aturan. Entah itu mendahului mobil dari sebelah kiri, atau sesederhana menerobos lampu merah.. dan paling sering.. nyolong2 main facebook waktu jam kerja.. ayo ngaku🙂

Kalau dipikir-pikir, kadang pemikiran ini bener juga yah.. dimana ada aturan, pasti ada yang melanggar. Yang hebatnya lagi, setiap pelanggaran, ada alasan yang kuat menurut yang melakukan. Lalu, buat apa ada aturan?

Coba kita tengok, apa arti aturan.. (berhubung kaga ada kamus indo, pake bahasa inggrisnnya ya.. “RULE” artinya :

“an accepted principle or instruction that states the way things are or should be done, and tells you what you are allowed or are not allowed to do”- menurut Cambridge dictionary

“guide or principle for conduct or action, an accepted method, custom, or habit, REGULATION, bylaw” menurut Marriam Webster Dictionary.

Sepertinya ada 2 kunci utama, yang pertama adalah instruksi (bagaimana melakukan satu kegiatan, mana yang boleh dan tidak boleh) yang kedua adalah accepted (artinya aturan diterima/ diakui)

Nah sekarang masalahnya, diterima oleh siapa?

Atasan saya pernah berkata, bila ada pertentangan kepentingan, maka yang pertama dilihat, apakah ada kesepakatan bersama antara dua pihak tersebut. Bila belum, berarti tidak ada yang salah atau benar, dan artinya mulai saat itu, harus dibuat kesepakatan bersama yang disetujui oleh kedua pihak.

Kalau sudah ada, ikuti kesepakatan yang ada dan konsekuensinya.

Sepertinya, ini yang menjadi dasar pembuatan aturan. Aturan, tidak lain adalah kesepakatan yang diakui oleh semua orang yang terlibat dalam satu proses/kegiatan. Kalau aturan itu, berlaku untuk banyak orang, berarti, perwakilan dari pihak2 yang berada didalamnya. (tidak mungkin toh, 200 juta orang indo beramai2 merumuskan tata cara pemilihan presiden atau bagaimana cara kerja lalu lintas)

Nah, kembali ke pertanyaan awal, kenapa ada aturan..

Jawabannya sangat sederhana, agar semua pihak tidak dirugikan dan menghargai kepentingan orang banyak. Coba kalau tidak ada aturan lampu merah, entah bagimana cara kita melewati simpang 4 dengan aman..semua kendaraan akan mementingan kepentingan sendiri dan maju.. akhirnya jadi seperti anyaman tikar, tidak ada yang bisa maju.

Lalu apakah aturan itu harus selalu dijalani? tanpa kompromi? dan semua orang yang melanggar aturan itu salah?

Sebenernya saya mendapat renungan ini, dari kotbah gereja kemarin. Romo mengatakan, kalau orang beragama itu berbeda dengan orang beriman. Letak perbedaannya adalah pada sikap mereka pada aturan. Orang beragama, semata-mata hanya menjalankan aturan agama. Dia rajin ke gereja setiap minggu, lalu memasang lilin sebanyak2nya di depan bunda Maria. Kadang, karena terlalu fanatik dengan aturan, sampai bagaimana cara mengambil komuni dipertanyakan. Tapi hanya itu yang menjadi perhatiannya. Dari luar, dia mengikuti aturan, tapi semuanya itu tidak didasari oleh iman untuk Tuhan. Berbeda dengan orang beriman. Mereka memiliki kepercayaan yang kuat terhadap kuasa Tuhan dan pasrah kepada kehendaknya. Bukan berarti mereka tidak menaati aturan, tapi aturan menjadi sarana untuk menertibkan, bukan menjadi yang diagung-agungkan.

Sebenarnya hanya ada satu aturan dari alkitab yang menjadi Golden rules yaitu KASIH. Batas minimalnya adalah “Lakukanlah apa yang kau kehendaki orang lain lakukan terhadap dirimu sendiri”, batas atasnya tidak ada.. karena batas atasnya adalah Tuhan sendiri.

Dari sini saya melihat, bahwa sebenernya aturan memilih hierarki. Ada aturan dasar, dan ada aturan lain yang dibuat diatas aturan dasar, dan seterusnya. Kadang, kita lupa akan aturan dasar tersebut, dan menjadi repot dengan aturan-aturan detail.

Coba kita telaah lagi, begitu banyak aturan yang dibuat, malah menyusahkan orang. Mungkin kita harus melihat kembali, apa aturan yang menjadi dasarnya.. lalu melihatnya sesuai dengan situasi. Tapi bukan berarti semua aturan harus ditelaah ya.. bisa2 kita bisa pusing sendiri..contohnya kalau lampu merah, harus berhenti.. ya artinya berhenti.. tidak perlu dikompromikan toh..

Tapi untuk aturan2 lain, yang mungkin dipertanyakan, seperti, anak laki-laki tidak boleh masak atau anak-anak harus menaati perintah orang tua karena orang tua lebih tua dari mereka. Sepertinya yang seperti ini, yang membuat anak menjadi pemberontak, karena mereka tidak mendapat penjelasan, mengapa aturan tsb dibuat..

Intinya adalah keseimbangan. Tidak perlu terlalu extrim dan mempertanyakan semua aturan, atau extrim satunya, mengikuti aturan tanpa cela. Satu hal yang sering terlupa dalam pendidikan anak, padalah ini adalah bagian terpenting dalam edukasi, yaitu perkembangan moral anak. Bila dia memiliki nilai dalam dirinya, maka ada atau tdk aturan, dia akan memilih melakukan yang terbaik.

Ayo semua.. jadi orang tua yang lebih baik yah..🙂

One response to “Apakah aturan itu perlu?

  1. aturan itu memang perlu dan diperlukan, kalau tidak ada aturan yang mengikat kita maka bisa saja kita jadi seenaknya sendiri tanpa harus melihat siapa yang akan kita jadikan korban atau malah kita sendiri yang jadi korban dari kesewenang-wenangan orang yang lebih kuat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s