Hubungan “Susahnya menjadi orang tua” dan “masa depan bangsa”


Buat yang sudah menjadi ibu/ayah, pasti pernah bertanya, “gimana seh buat anak saya menurut”. Kita selalu memberikan yang terbaik untuk anak ini, tapi dia malah berteriak, menolak, sungguh sulit diatur!!  Sudah dibela-belain buat makanan tersehat dan terlezat, eh dia malah mengunci mulutnya, atau yang lebih parah lagi, kalau piringnya ditepak, atau malah dimuntahkan kembali.

Saya sendiri sempat hampir stress dengan hal ini. Mulai dari bayi, disaat kita sulit sekali menebak arti dari tangisannya yang tak kunjung selesai, padahal kita baru saja mau beristirahat. Lalu ketika dia mulai mengerti bahwa dirinya terpisah dari orang lain, dan mulai memiliki kehendak sendiri, dia menolak semua yang kita minta. Diminta makan, dia malah lari. Diminta jangan lari-lari, dia malah lari, loncat, sampai akhirnya jatuh. Diminta untuk tidur, dia menolak, menangis.

Sejuta masalah antara orang tua dan anaknya sebenernya bukan hal yang baru. Kalau kita bertanya ke orang tua kita, mereka pasti memiliki pengalaman yang sama sewaktu membesarkan kita. Jadi, apa yang salah?
Mungkin sudah saatnya ada pendidikan khusus untuk membesarkan anak. Pernahkah terpikir kalau untuk pengetahuan lain, kita punya pendidikannya. Bahasa, sains, ketrampilan masak, sampai ke hairdresser pun ada. Tapi mengapa pendidikan untuk membesarkan anak tidak ada?

Padahal, kebutuhan ini sangat besar, buktinya TV show seperti Nanny 911, Super nanny cukup mem-booming dan terkenal. Banyak orang tua menjadikan acara ini sebagai salah satu sarana untuk mendapat ilmu membesarkan anak. Tapi itu pun, cukup sulit untuk diterapkan dirumah kita masing-masing.

Atau ada yang berpikir, dulu orang tua kita juga ga belajar membesarkan anak. Buktinya kita bisa jadi orang yang sukses, bisa cari duit, bisa punya moral, dll. Nah, coba direnungkan kembali, apakah tantangan yang kita hadapai pada jaman kita kecil, sama dengan jaman anak kita? Apakah dulu kita semua informasi dapat diperoleh dengan koneksi internet dan keyword yang tepat?  Apakah dulu teknologi sudah semaju sekarang dimana hampir semua orang sudah punya HP atau bahkan mini CPU (PDA/smart phone). Apakah dulu lulusan S1 sebanyak sekarang, atau lulusan S2 sebanyak sekarang?

Pendidikan yang sama yang kita tempuh dulu, kalau dilalui oleh anak kita sekarang, tidak akan cukup untuk memberi bekal kepada mereka untuk bersaing di masa mereka. Kita tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi beberapa tahun kedepan. Segala sesuatu yang baru bermunculan setiap hari.. Dunia sudah berubah. Mendidik anak perlu cara yang berbeda pula..

Lalu, kalau dibilang, buktinya ada orang tua yang dapat mengatur anaknya dengan tanpa masalah.. walau dia tidak belajar apa-apa ttg mendidik anak. Sama seperti ketrampilan lainnya, ada orang yang memang berbakat, sehingga untuk ketrampilan tersebut, dia tidak membutuhkan pendidikan, bisa secara otodidak. Tapi sayangnya tidak semua orang memiliki kemampuan ini.

Coba bayangkan, bila semua orang tua yang pastinya tidak berpengalaman mendidik anak, melakukan trial and error dalam kehidupan anak mereka. Untuk yang percobaannya berhasil, anaknya akan berhasil pula, tapi bagaimana nasib dengan yang error??

Saya sendiri, merasa buta mengenai hal ini, mencoba mencari informasi dari berbagai media. Pertama langganan majalah parenting, subscribe ke web seperti babycenter, sampai melahap buku-buku dari self improvement, children development sampai ke buku nanny 911.

Saya cukup kaget, ternyata banyak sekali yang belum saya ketahui sebelumnya.. dan ternyata hasil pencarian saya malah berpengaruh terhadap perkembangan diri saya sendiri. Mulai dari emotional intelligence, yang menjadi dasar utk membentuk karakter/moral seseorang, kemampuan komunikasi yang menjadi dasar utk mengemukakan ide, pentingnya keseimbangan aktifitas otak kanan dan kiri yang menjadi hal wajib utk menjadi orang yang kreatif dan cerdas.

Belum lagi pengetahuan financial (yang sebelumnya saya tidak pernah diajarkan disekolah) dari buku rich dad poor dad. Atau mengenai pentingnya musik dan seni lainnya terhadap cara bekerja otak.  Perbedaan cara membesarkan anak laki-laku dgn anak perempuan. Secara biologis kedua gender ini memiliki perbedaan yang cukup significant dan ternyata membawa perbedaan yang cukup besar terhadap cara mereka belajar dan berkembang.

Dan yang menurut saya yang sangat menarik adalah ternyata semua orang memiliki passion yang berbeda-beda yang sudah dikaruniai oleh Tuhan. Dan bagaimana cara untuk bertemu dengan passion tersebut, dan mengapa kita sekarang semua sepertinya sibuk mencari passion kita sendiri.

Pencarian saya belum berakhir… semakin banyak membaca, semakin terasa banyak hal yang belum saya ketahui. Mungkin dengan adanya pendidikan mengenai membesarkan anak, proses pembelajaran ini dapat menjadi lebih cepat atau untuk yang tidak memiliki waktu karena sibuknya pekerjaan, mungkin kursus-kursus dapat memberikan basic knowledge.

Masa depan bangsa tergantung pada generasi masa depan.. anak-anak kitalah yang akan berkarya nantinya. anak yang masih imut yang berada dalam asuhan kita saat ini..

Setujukah anda?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s