Pengalaman menyapih alias weaning Fabian


Menyusui sudah seperti kegiatan rutin saya dan Fabian khususnya di malam hari. Tidak terbayang sebelumnya bagaimana caranya saya bisa melepas keakraban dan intimasi yang kita bangun selama menyusui ini. Di satu sisi, dia sudah berumur 30 bulan, alias 2.5 tahun. Sepertinya peran ASI pun tidak lagi terlalu penting bagi perkembangannya, baik dari hal nutrisi maupun kenyamanan (secure feeling).

Pertama saya dan suami memutuskan untuk menyapihnya pada saat dia berumur 2 tahun persis. Tapi entah kenapa setelah ulang tahunnya berlalu, saya masih  belum merasa siap. Sampai akhirnya ditetapkan di tanggal 19 Nov 2009, menjadi tanggal penyapihan bagi Fabian.

Tanggal tersebut, saya mengikuti corporate gathering di Bali selama 3 hari 2 malam. Sepertinya memang ini adalah momentum yang tepat untuk memulai usaha menyapih saya. Sebelumnya dia tidak pernah terpisah dengan saya pada malam hari. Terus terang saya pun sebenarnya tidak dapat menikmati perjalanan ke Bali tersebut, sepertinya ada yang kurang dalam diri saya karena untuk pertama kalinya tidur dimalam hari tanpa Fabian.

Kebetulan saya bekerja, jadi pada saat saya pergi, dia tidak ada masalah, karena sudah terbiasa berdua dengan susternya di rumah. Tapi ketika malam hari, biasanya dia selalu tertidur ketika sedang disusui. Nah, di hari pertama kepergian saya, dia tidur kira-kira jam setengah satu. Itupun dengan beberapa tangisan dan rengekan ingin menyusu. Tapi dari waktu tersebut, dia dapat tertidur lelap sampai pagi hari. Di malam kedua, dia pun tertidur dengan babysitter saya di kurang lebih jam 12 malam.

Nah setelah saya pulang, di malam harinya dia dengan semangat meminta ‘nenen’. Sebelumnya saya sudah bilang,.. “kok minta nenen fab, kan sudah besar. Nenen mama sudah pahit.” Lalu sesaat sebelum dia menyusu, saya mengoleskan minyak kayu putih terlebih dahulu. Saya ingat sekali raut mukanya yang kebingungan sambil menjilat-jilat bibirnya. Saya bilang “tuh kan pahit ya?” Fabian berkata “iya, pahit”.

Dari sejak itu, dia tidak pernah memaksa lagi untuk meminta ASI. Tapi memang di awal-awal, dia agak linglung pada saat mau bobo. Di minggu pertama, dia minta di pangku, sampai pada akhirnya dia tertidur lelap. Di minggu selanjutnya, saya hanya menemaninya tiduran di kasur sambil mengobrol, sampai pada akhirnya dia tertidur sendiri.

Saya merasa lega sekali, ternyata menyapih tidak seseram yang saya bayangkan. Fabian masih dapat beraktifitas dengan normal, dia tidak memberikan protest yang ekstrim dan tetap bisa bobo di malam hari.

Menyapih bukanlah hal yang mudah bagi saya. Terus terang, beberapa kali saya merasa ragu dan ingin mengurungkan niat saya untuk menyapih. Tapi semua ada waktunya. Begitu pula dengan menyusui. Inginnya sih anaknya sendiri yang secara sadar tidak mau nenen lagi. Tapi sepertinya hal ini tidak bisa terjadi antara saya dan Fabian, karena kita berdua sangat menikmati saat-saat tersebut.

Berikut beberapa hal yang saya bisa bagi utk ibu/mama diluar sana yang sedang memikirkan untuk menyapih anaknya.

Hal pertama yang harus dikuatkan adalah keyakinan mama. Kalau sudah sekali memutuskan untuk menyapih, tidak boleh berbalik lagi, dan mulai memberikan pada saat-saat anak merengek. Tekad mama harus sudah bulat (biasanya perasaaan ibu akan mengatakan bahwa dia sudah siap atau belum). Bila tidak konsisten, maka anak akan bingung dan mengira bahwa ada saat mamanya tidak mau kasih, tapi ada saat mamanya mau kasih..

Hal lainnya yang sangat penting dilakukan adalah memberi pengertian kepada Fabian bahwa dia sudah besar, dan tidak perlu lagi minum ASI seperti pada dede baby. Dari dia berumur 2 tahun, saya suka mengatakan kepadanya pada saat menyusuinya, “mama sayang Fabian. Walaupun nanti Fabian sudah tidak nenen lagi, mama tetap sayang Fabian. Kalau fabian mau dipeluk seperti sekarang, Fabian bisa bilang sama mama.”

Lalu saya dan suami juga secara konsisten mengatakan bahwa, bila Fabian sudah tidak nenen lagi, akan dibelikan sepeda seperti punya koko yang dia lihat di dekat rumah. Sepertinya keinginannya untuk memiliki sepeda cukup besar, sehingga dapat mengalahkan keinginannya untuk kembali mendapatkan kenyamanan pada saat disusui.

2 responses to “Pengalaman menyapih alias weaning Fabian

  1. denger-denger sibuk project,
    ternyata blogging jalan terus.

    • Hai Adhi,
      dahl lama ga denger kabarnya..
      blogging itu obat kalau lagi suntuk.. jadi harus jalan terus dong. terutama kalau lagi ga bisa mikir..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s