Anak Penurut, idaman para orang tua


Kalau orang tua ditanya, apa yang bisa dilakukan anak utk menyenangkan orang tua. Mungkin jawaban teratas adalah jadilah anak penurut, yang mengikuti nasihat/kata-kata orang tua, tidak membangkang, tidak melawan.  Apakah benar, bila orang tua menginginkan hal ini dari anaknya?

Diusianya yang ke tiga tahun ini, Fabian sudah mempunyai kehendak sendiri, dan sering kali melawan permintaan dari saya ataupun papa dan susternya. Dari mulai bangun tidur,  makan, mandi, sampai memilih baju, semuanya tidak bisa diatur oleh saya. Dia yang memilih untuk melakukannya, atau dia akan berteriak tidak mau, sambil berteriak dan memukul-mukul. Bahkan akhir-akhir ini, dia meniru temannya yang suka meludahi orang lain..

Huff.. sungguh menyebalkan! Kadang kita sudah tau dengan benar, bahwa yang dilakukannya sangat berbahaya dan memintanya utk tidak melakukannya, tapi di tetap saja naik ke atas meja kaca. Kalau di hari yang berat, emosi kita pasti terpancing, dan alhasil kita akan meledak.

Ada juga yang bilang kalau kita tidak boleh terlalu lemah terhadap anak. Tunjukkan siapa yang punya kuasa. Bila dia memberontak, menolak, kita beri hukuman. Tapi sepertinya hal ini bukan yang terbaik, karena akan timbul rasa takut dengan orang tua sehingga mereka malah semakin jauh dengan orang tua dan tertutup.

Lalu ada juga yang menganut anak tidak boleh dihukum. Tapi pada akhirnya, anak belajar cara-cara yang sangat luar biasa utk membuat kehendaknya terwujud, mulai dari nangis, berteriak, melempar barang, dan cara-cara lainnya. Mereka berubah menjadi anak manja yang harus dituruti.

Jadi yang benar itu seperti apa?

Kalau dipikir, anak kita itu adalah mahluk yang paling cerdas. Dia bisa meniru dengan sangat sempurna apa yang dia lihat, dengar, dan yang dia amati.  Dia juga sebenarnya adalah pada puncak paling creative dalam umur manusia, karena pada usianya yang belia ini, dia mengamati, menganalisa dan mencari solusi dengan cara-cara yang belum pernah kita bayangkan sebelumnya dengan rasa ingin tahu yang sangat besar.

Kalau kita membatasi cara berpikirnya dan mematikan rasa ingin tahunya, ini berarti kita mematikan kreatifitas didalam dirinya. Padahal hal ini yang membedakan antara manusia dan mesin.Menjadikan dia anak penurut, secara tidak langsung memberikan dia langkah-langkah yang harus diambil sehingga dia tidak lagi menjadi kritis dan melakukan segala sesuatu hanya karena terpaksa atau karena mereka berpikir memang cuma ada 1 cara utk menyelesaikan masalah tersebut.

Saya mencoba mengambil jalan tengahnya.

Yang dibatasi adalah hanya bila kegiatan yang dia lakukan sungguh berbahaya, misal dia mulai mengamati/memegang saklar listrik, atau naik ke meja yang permukaannya dari kaca,  dan aktifitas lain yang membahayakan hidupnya. Selain dari itu, saya membebaskan dia utk menemukan caranya sendiri. Bila dia bertanya, saya menjawabnya dengan alasan yang selogis dan sejelas-jelasnya sehingga dia bisa memutuskan sendiri, apa yang terbaik.

Untuk memperlancar kegiatan di pagi hari, saya menerapkan konsistensi jadwal. Bangun tidur, langsung makan. Setelah itu mandi, lalu berangkat ke sekolah. Pulang sekolah makan siang, lalu tidur siang. Sepulang saya dari kantor,  saya mandi dan makan terlebih dahulu, lalu bermain dengannya sampai waktunya tidur. Dengan demikian, dia bisa melihat sendiri apa yang akan dikerjakan. Untuk mulai kegiatan, biasanya saya memberi peringatan kepadanya sebelumnya. Misal “Fab, 5 more minutes kita tidur ya.” lalu dihitung mundur sampai “one more minute ya”. Biasanya dia dengan rela memberhentikan kegiatan bermainnya dan mengikuti saya ke kamar tidur.

Menurut saya, lebih baik bila orang tua tidak mendikte anaknya, tapi memberi ilmu yang cukup utk dapat menyelesaikan masalah mereka atau menjalankan tugasnya.

Biarkanlah dia mempelajari cara bagaimana mengambil keputusan. Berikan dia ilmu utk menganalisa, mempertimbangkan semua pilihan, lalu biarkanlah mereka mengambil keputusan sendiri. Bila keputusannya salah, kita bantu dia untuk menganalisa apa yang terjadi, bangkit kembali dan selalulah berada di sampingnya pada saaat dia membutuhkan dukungan. Pupuk terus potensi bakat mereka dan beri keleluasaan untuk memilih.

Saya berharap dengan pendekatan seperti ini, anak menjadi lebih kritis, kreatif, berani mengambil resiko dan pada akhirnya dia dapat bekerja sesuai dengan passion mereka.

Bagaimana menurut anda?

2 responses to “Anak Penurut, idaman para orang tua

  1. Bgmn jika anak usia 8 tahun?

  2. Dear Emil,
    Maaf baru sempat balas komentarnya.
    terus terang saya belum pengalaman utk anak usia 8 tahun. Fabian sekarang baru 5 tahun.
    Sepertinya tiap tahapan usia, tantangannya sangat berbeda. Caranya pun mungkin sangat berbeda.

    Dulu ketika Fabian 3 tahun, sulit sekali utk meminta dia melakukan sesuatu. Karena dia belum bisa diberi pengertian. Tapi ketika memasuki usia 5 tahun, dia sudah bisa diajak bicara. Beberapa hal menjadi begitu mudah, karena saya sudah dapat memberi pengertian mengapa dia harus melakukan sesuatu.
    Satu hal yang menurut saya valid sampai sekarang adalah konsistensi dari peraturan orang tua. hal ini membuat anak menjadi tidak bingung dan mengurangi hal yang tidak terduga. Biasanya kalau anak sudah tahu apa yang akan kejadian selanjutnya, dia akan lebih tidak resisten.

    Semoga valid ya infonya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s