Problem solving skill dari hasil menjaga bayi baru lahir


Problem solving skill adalah salah satu kemampuan dasar yang menjadi syarat untuk hampir semua pekerjaan yang membutuhkan analisa. Tapi, tidaklah mudah untuk mengasah kemampuan ini, karena penyelesaian masalah bukanlah ilmu yang dapat diperoleh dari training atau pelajaran teoritikal lainnya. Oleh karena itu, konsultan yang sudah berpengalaman, akan memiliki kemampuan menganalisa masalah lebih akurat dan memberikan solusi yang lebih tepat dan akurat.

Dari hasil beberapa minggu cuti melahirkan, saya mendapat pandangan baru mengenai problem solving. Ternyata, dasar pertama yang harus dimiliki adalah kemampuan untuk mengetahui akar masalahnya.  Kebanyakan kita hanya melihat gejalanya saja, tapi tidak mendalaminya sampai ke penyebabnya. Emosi dan perspektif kadang menghalangi kita melihat masalah yang sebenarnya.

Sebagai contoh, ibu yang baru saja melahirkan bayi, mempunyai masalah yang sangat klasik. Bayinya menangis terus dan tidak tau mau apa. Pertama dia menerapkan semua pengetahuan yang dimilikinya. Mulai dari mengecek popok, lalu memberi susu, dan membantu sendawa. Tapi setelah pengetahuannya diterapkan, tapi bayi masih menangis, maka sang ibu akan mulai panik… Aduh kenapa sih nih bayi.. emosi mulai berjalan yang semakin lama berkembang menjadi stress.

Selanjutnya, emosi mulai menghalangi logika, sang Ibu tidak dapat melihat masalah sejernih sebelumnya. Setiap kali bayinya nangis, hal pertama yang terlintas adalah “aduh kenapa lagi bayiku?”- bentuk dari frustasi sang ibu. Kadang masalah sesederhana popok basah menjadi beban pikiran yang cukup berat karena beban emosi.

Bila ibu tidak bisa melewati fase emosi ini, maka selanjutnya adalah tahap generalisasi yang cenderung salah. Misal, setelah beberapa kali percobaan, ternyata bayinya berhenti menangis setelah digendong. Pada saat orang lain (ibu, mertua atau pengasuhnya) mengatakan.. “wah anak ini sudah bau tangan ya, maunya digendong terus”, sang ibu menelan cap “bau tangan” ini mentah-mentah. Padahal faktanya, mungkin saja sang bayi sering menangis karena mau sendawa yang bisa dibantu dengan digendong.

Kalau dilihat dari ilustrasi diatas, hal ini juga bisa terjadi di pekerjaan profesional. Pada saat karyawan menemukan masalah, mereka akan menggunakan pengetahuan yang diketahuinya. Apabila semua usaha tersebut tidak membuahkan hasil, maka mereka mulai emosi dan menyalahkan hal yang diluar kendalinya “ini bukan salah saya, tapi memang kondisi perusahaan yang tidak memungkinkan saya untuk menyelesaikan masalah ini”. Terakhir, pemikiran tersebut digeneralisir sehingga masalah yang ada diterima menjadi sesuatu yang “sudah dari sononya” dan mau tidak mau diterima.

Benarkah contoh yang saya berikan diatas?

Kalau menurut saya, pada saat emosi sudah mulai mengambil alih, cepat2 sadari. Memang emosi tidak bisa dihilangkan, tapi bisa diakui dan dikendalikan agar tidak menghalangi kita pada saat mengamati penyebab masalah. Kadang memang membutuhkan waktu yang lama dan pengamatan yang cukup panjang untuk mendapatkan akar masalah. Penting sekali untuk menjaga agar emosi tidak menghalangi proses ini.

Pantangan selanjutnya adalah generalisasi yang salah. Daripada mengambil kesimpulan terlalu cepat, lebih baik buka pikiran lebih luas. Ingat juga untuk selalu menjadi proaktif (sifat pertama dari 7 habits). Fokuslah dengan hal-hal yang dapat dikendalikan oleh diri kita, daripada hal-hal yang tidak bisa dikendalikan. Sejalan dengan waktu, lingkaran pengaruh kita akan membesar sehingga semakin banyak hal yang bisa kita lakukan dan kendalikan.

Bila kedua hal tersebut dapat diatasi, maka kita akan dapat menemukan masalah yang sebenarnya. Barulah percobaan penyelesaian masalah dapat dilakukan dengan lebih baik. Pada saat ini, diperlukan ilmu pengetahuan kembali utk menyelesaikan masalah tersebut. Saat ini membaca dan mencari ilmu adalah kegiatan yang wajib, karena dari sinilah solusi dapat diperoleh.

Yang terakhir, proses pemecahan masalah mirip dengan siklus Plan-Do-Review. Setiap solusi yang dilakukan harus diamati hasilnya, bila ternyata menunjukkan gejala perbaikan, berarti anda sudah di track yang benar. Ingat teruslah melakukan trial and error, bila satu cara tidak berhasil, kembalilah membaca, mencari insight.. Buka mata buka telinga..

Jadi untuk ibu-ibu baru/analis diluar sana, teruslah mengamati! Setiap anak/proyek adalah khas. Mungkin pada saat anak/proyek pertama, tidak ada masalah tersebut. Jadi bukalah mata, telinga, pikiran dan hati kita. Agar semua masukan dapat dianalisa dengan baik dan kita mendapat solusi yang terbaik pula.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s