Menjawab pertanyaan anak yang kritis


“Pa, kenapa kalau suami istri itu ga boleh saudara, kenapa harus orang lain?” Inilah pertanyaan Fabian yang membuat pusing papanya. Pernahkah anda mengalami hal yang sama, di mana anak yang baru berumur 4,5 tahun mengajukan rantaian pertanyaan yang berakhir pada pertanyaan yang sulit sekali dijelaskan? Begini cara saya mengatasinya…

Sebelum pertanyaan pamungkas itu, Papanya mencoba menjelaskan mengapa suami istri itu harus tidur berdampingan di kamar. Kalimatnya kurang lebih seperti ini. “Kalau sudah undangan (pernikahan), suami istri akan bobo bersebelahan”. Fabian kemudian bertanya, “kenapa harus bersebelahan?” Kan sudah undangan jadi suami istri, kata papanya.

Fab: “Suami istri itu apa?” Papanya menjelaskan ” nanti kalau Fab sudah besar, Fabian akan cari orang lain utk jadi istri fabian”. Fabian menjawab, kalau begitu fabian mau sama Rena aja (adik perempuannya).  “Tidak bisa fab, suami istri itu tidak boleh dari saudara, harus orang lain”.

Fab: “kalau gitu fab mau sama dede Kekey aja (sepupunya)!”. Papa: “ga boleh, kan dede kekey sodara fabian, harusnya orang lain”. Fab: “kenapa harus orang  lain, ga boleh sodara?”.

Papanya sudah mulai kebingungan menjelaskan, dia mencoba bilang “karena kalau sodara nanti bahaya”. Fab:”kenapa bahaya?”. Papa: “hmmm, nanti deh kalau fabian dah 10 tahun, papa jelasin, papa susah jelasinnya”. Fab: “kenapa pa? kenapa harus sama orang lain?”

Saya geli sekali mendengar percakapan mereka berdua. Saat itu saya sedang menyusui Rena yang hampir terlelap malam itu. Papanya mencoba menjelaskan “karena sodara itu, gennya sama. Fabian tau gen?” Fab:”ga”. Papa:”aduh…nanti aja yang dijelasinnya. Sekarang dah malem, ayo bobo. Besok disekolah ngantuk loh”. Fab: “tapi kenapa ga boleh sama sodara pa?”

Saya mencoba menyelamatkan papanya. “Ayo Fab, sudah jam berapa itu, jam 11 malam. Kan Fabian baru sembuh dari batuk. Harus istirahat. Jadi nanti Natal bisa makan es krim, coklat lagi”. Walau dia masih mau bertanya, kita berdua kompak utk bilang “papa dan mama udah ngantuk banget, sudah waktunya tidur, ayo bobo”

Hebatnya, besok malamnya Fabian masih bertanya hal yang sama. “Ma, kenapa suami istri itu harus sama orang lain ma?”. Hahaha dia masih penasaran dengan pertanyaan itu!

Saya menjawab seperti ini. “Fab, Tuhan itu menciptakan manusia berpasangan supaya bisa saling bantu, saling sayang. Kalau lagi sedih ada yang menghibur, kalau lagi kesulitan ada yang bantu, dan biasanya tinggal bersama terus sampai tua. Coba lihat, kalau mama sama papa, kukuh melati sama kucong Edu, kalau popoh sama siapa?” Fab: “kungkung” Saya:”hmmm kalau Qkung sama siapa?” Fab: “Qpoh”.

Setelah mendapat penjelasan ini, dia sepertinya terpuaskan dan tidak ingat lagi dengan pertanyaan awalnya.

Mungkin orang tua kadang tidak merencanakan dulu apa yang harus dikatakan. Alhasil anak malah bertanya hal yang tidak ada hubungannya dengan penjelasan yang pertama. Sepertinya memang butuh ketrampilan utk menyusun kata-kata yang tepat utk anak.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s