Cerita Fabian – Patah tulang tangan kanan pada anak


Cerita patah tulang Fabian Apa??
Patah tulang?
Fabian patah tulang?
YA.. itulah yang terjadi pada fabian di hari kamis, 15 Maret 2012 sekitar jam 4 sore.

Untuk yang sudah mengenal Fabian, sudah pasti tidak heran kalau kejadian ini bisa menimpa tangan kanannya. Fabian terkenal sebagai anak ‘luar biasa’ aktif (baca: tidak bisa diam, selalu berlari, berloncat dan suka menjatuhkan diri pada saat main sepeda). Banyak orang tua murid yang ketakutan melihat tingkah polah Fabian yang suka menarik perhatian dengan gerakannya yang super berbahaya. Mungkin mereka berpikir ‘kok mamanya bisa diam saja yah melihat kelakuan anakknya itu’.

Terus terang, saya sendiri bukannya tipe anak yang bisa diam di masa kecil. Jatuh, luka, memar adalah kejadian yang sudah biasa saya alami selama TK dan SD. Saya ingat sekali karena terlalu sering jatuh, mama saya sampai kadang membiarkan saya mengobati luka sendiri. Dan saya bisa mengganti tangisan menjadi tawa pada saat merasakan perihnya betadine/arak yang dikucurkan ke luka yang mengangga. Bahkan saya juga pernah mengalami sobek di kepala, gigi patah,dan yang paling ultimate patah tulang pada lengan kanan saya. Ya persis seperti Fabian, tapi beda tulang (saya bagian bawah, Fabian dibagian atas dekat siku). Kalau kata teman saya “like mother like son”.

Sepertinya gen “tidak bisa diam” ini diturunkan ke anak saya. Dan biasanya kalau masih dalam batas aman, saya tidak melarang Fabian dalam aktifitas dia, sehingga jarang sekali saya menegurnya.

Anehnya, sebelum kejadian ini, di hari selasanya, saya baru saja memarahi Fabian ‘habis-habisan’ karena dia menggunakan trampoline yang saya beli dari ELC dgn cara yang sangat ajaib. Dia melangkah dari bangku ke besi untuk pegangan tangan trampoline, lalu loncat ke trampolin lalu loncat ke lantai. Entah karena firasat, atau karena saya sedang emosi, saya mengamuk dan mengambil trampolin itu, lalu menyimpannya. Saya juga menghukum Fabian untuk tidak boleh main PSP dan ipad sampai hari Sabtu.

Tapi ternyata takdir sudah ditentukan. Kamis sore itu, Fabian sedang bermain sepak bola di rumah bersama bibinya. Kebetulan di tempat parkir depan rumah, ada mobil truk buntung, dan bolanya terlempar ke bak mobil tersebut. Seperti biasa, Fabian dengan cekatan naik ke bak dan meloncat turun setelahnya. Nah pada saat meloncat ini, dia terpeleset di pinggir bak, lalu terjatuh di aspal dengan posisi siku kanan yang menahan.

Fabian menangis kesakitan. Pada saat itu, saya dan papanya masih bekerja. Dirumah, selain susternya, ada popoh dan kungkungnya. Mendengar Fabian jatuh, popohnya langsung keluar rumah dan melihat keadaan Fab. Ternyata tangan kanannya berbentuk aneh, seperti tidak bertulang (lunglai).

Dalam keadaan panik, fabian dibawa ke tukang urut yang biasa menangani patah tulang, rekomendasi dari supir kami. Sepanjang perjalanan, Fabian menangis kesakitan. Sekitar siku, terdapat luka gores karena tergesek dengan aspal, menambah sakit yang dia rasakan.

Sesampainya di tukang urut, tangannya di posisikan supaya lurus lalu diberi penyangga semacam bambu yang dililit dengan kasa dan dibungkus dengan perban. Sebelumnya diberi ramuan dari dedaunan, mungkin untuk mempercepat penyembuhan. Selama proses berlangsung, tangisan Fabian luar biasa. Saya bisa merasakan bagaimana sakit yang dirasa Fabian saat itu, karena saya juga pernah merasakan hal yang sama pada saat mengalami patah tulang sewaktu saya SMA. Karena tangan kanannya diluruskan sulit sekali untuk memindahkan fabian, karena getaran sedikit bisa menimbulkan rasa sakit.

Saya baru mengetahui kejadian ini melalui telepon setelah fab pulang dari tukang urut. Karena saya membawa mobil sendiri, mereka khawatir saya panik dan akan menyetir dengan ugal2an bila diberi tahu sebelumnya. Awalnya saya pikir hanya retak, lalu saya ditanya apakah boleh dibawa ke RS utk di rontgen. Saya pun menyetujuinya. Fabian dibawa ke BMC, salah satu rumah sakit di Bogor.

Sesampainya saya di RS, saya melihat hasil rontgen, yang menunjukkan tulangnya patah dan posisinya tidak satu jalur. Dokter UGD meminta agar Fab di rawat inap malam itu juga, lalu besok pagi langsung operasi untuk pemasangan pen. Malam itu, seharusnya ada dokter tulang yang praktek, tapi hari itu beliau tidak masuk. Setelah berpikir beberapa menit, saya memutuskan untuk membawa pulang fabian.

Pertama karena tidak ada perawatan khusus pada malam itu (hanya akan diberi obat penahan sakit dan infus). Kedua, bila di RS, Fab malah bertambah tidak nyaman karena lingkungan baru dan biasanya tidak bisa tidur. Ketiga, saya masih belum yakin utk mendatangi dokter tulang yang mana. Berbekal obat penahan sakit dan obat panas (proris), kami pun pulang ke rumah. Rena pun terlihat panik malam itu. Dia tidak mau ditinggal saya.

Kamis malam, Fabian tidak bisa tidur semalaman. Detak jantungnya berdebar sangat cepat. Kadang dia ketiduran, tapi tidak lebih dari 1 jam, lalu terbangun berteriak sakit…sakit…sakit… Bahkan pada keadaan tidur pun, detak jantungnya sangat cepat.

to be continue…

3 responses to “Cerita Fabian – Patah tulang tangan kanan pada anak

  1. continuenya lama ya

  2. Trus lanjutannya apa? Krna keponakan saya mengalami hal yg sama prsis. Ini saja saya g bisa tidur krna keponakan saya trus menerus nangis….

    • Maaf sekali yah Bunga, saya baru lihat komentarnya..
      Lanjutannya ada di post saya lainnya. Singkat kata, Fab di operasi dan pasang pen. Setelah 1bln setengah, dioperasi kembali utk mengeluarkan pennya. Ternyata tidak bisa dengan cara tradisional, karena patahannya tidak bisa diposisikan yg baik, jadi bisa berubah bentuk atau menghambat pertumbuhan.

      Semoga lekas sembuh ya..Tuhan berkati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s