Summary – Nurture Shock by PO Bronson & Ashley Merryman


Ketika pasangan muda dikaruniai seorang anak, hampir semuanya membeli buku mengenai parenting. Akan tetapi hanya sedikit yang mampu bertahan untuk membaca dan mempelajarinya. Alasannya sederhana.. setelah melihat banyak teori, sepertinya akan lebih baik kalau menggunakan ‘instinct’. Toh ayah dan ibunya, tidak perlu membaca buku parenting berhasil mendidik dirinya sampai dewasa. Lagi pula saat bayi mungil itu lahir, sang ibu secara otomatis akan mengetahui apa yang terbaik untuk anaknya dan akan terus tahu apa yang harus dilakukan 18 tahun mendatang.

Pengarang buku ini juga mengatakan hal yang sama. Mereka merasa, rasa cinta kepada anaknya akan cukup untuk menuntunnya menjadi orang tua yang baik. Sampai di satu titik, dimana mereka meneliti mengenai motivasi dan menemukan bahwa banyak dari instinct tersebut yang salah. Banyak jurnal dan hasil riset yang dijadikan reference dalam buku ini, menunjukkan dan menjelaskan beberapa mitos yang salah dan berakibat fatal.

Kenapa bisa instinct itu bisa salah? ternyata definisi instinct bukanlah “collective wisdom gleaned intuitively from our experiences raising kids” tapi lebih kepada “is the fierce impulse to nurture and protect one’s child”. Jadi belum tentu instinct bisa menunjukkan yang terbaik.
“The inverse power of praise”
Menurut instinct:
Untuk meningkatkan rasa percaya diri, anak harus diberi pujian agar dia mengetahui bahwa dirinya adalah pintar dan hebat. Ketika anak merasa dirinya pintar, dia akan bersikap seperti anak pintar dan yakin bahwa tidak ada halangan yang tidak bisa ditaklukannya. Selain itu pujian adalah hal positif yang menunjukkan cinta dan rasa sayang orang tua.

Menurut science:
Anak yang sering di puji pintar akan membedakan mana yang dia mahir dan mana yang tidak. Dia akan berhenti berusaha terhadap hal-hal yang tidak dapat dia selesaikan dalam sekali coba dan menganggapnya memang hal itu bukan kemahirannya. Akhirnya dia akan menolak semua hal yang membutuhkan usahanya.

Seharusnya:
Pujian memang bisa memberi motivasi, tapi yang pujian yang baik adalah pujian terhadap usaha yang dilakukan oleh anak. Pujian tersebut harus mendeskripsikan apa yang sudah dikerjakan dengan baik. Daripada “wow, kamu pintar” lebih baik “Mama suka sekali melihat bagaimana kau berjuang dan terus berusaha untuk mengikat sepatu”. Dengan demikian anak akan menjadi tahu, apa yang harus dilakukan selanjutnya.

“Why kid lie”
Menurut instinct:
Jujur adalah sifat yang paling penting dimiliki seorang anak dan sebagian besar orang tua merasa bahwa anaknya tidak pernah berbohong. Anak berbohong karena mereka tidak didik dengan baik. Seharusnya ketika anak tertangkap ketika berbohong, maka orang tua memberikan hukuman sehingga anak menjadi jera dan tidak mau berbohong lagi.

Menurut science:
Sulit sekali membedakan anak yg jujur dan bohong, bahkan polisi pun hanya 45% benar dalam mengidentifikasi kebohongan anak.
Anak berbohong untuk menyenangkan orang tua mereka. Awal dari kebohongan anak adalah ketidakinginan anak mengecewakan orang tuanya dengan fakta yang sesungguhnya. Selain itu, anak melihat contoh dari kelakuan orang tuanya sendiri. Bahkan “white lie” pun adalah kebohongan, karena menurut anak yang ketidak cocokan antara yang dikatakan dan kenyataan adalah kebohongan. Hukuman untuk kebohongan tidaklah mengurangi anak untuk berbohong, tapi malah mencari kebohongan lain untuk menghindari hukuman.

Seharusnya:
Ketika anak ditemukan melakukan kecurangan/tindakan tidak baik, arahkan agar dia mau mengatakan yang sesungguhnya dengan kalimat, “kalau mau mengintip, mama tidak akan marah. Tapi kalau kamu mengatakan yang sejujurnya, mama akan senang sekali”

“Sibling Rivalry”
Menurut instinct:
Alasan perkelahian antar saudara sekandung adalah perebutan perhatian orang tua. Ketika anak yang lebih kecil lahir, anak yang lebih tua merasa iri dan menyalurkannya dengan berkelahi. Untuk menghindari perkelahian, jarak umur kedua anak sangat menentukan, setidaknya harus menunggu 3 s/d 4 tahun.

Menurut science:
Penyebab utama perkelahian saudara adalah perebutan kepemilikan (terutama mainan atau otoritas). Dari studi pengamatan ditemukan bahwa hanya 1 dari 8 pekelahian antar saudara kandung yang sampai ke penyelesaian masalah. Sisanya berakhir dengan pengalihan atau pemisahan antar kedua anak. Akibatnya anak tidak bisa mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah diantara mereka berdua.

Seharusnya:
Kedua anak dilatih untuk dapat menyelesaikan masalah diantara mereka berdua ketika berkelahi, sehingga ketika tidak ada orang tua pun, mereka bisa melakukannya sendiri.
Bukan jarak umur kedua anak, tapi “apakah anak pertama sudah dapat membina hubungan secara sosial dengan teman baiknya” yang menentukan apakah akan terjadi perkelahian antara saudara kandung. Ketika anak sudah bisa berteman, dia sudah memiliki “kemampuan untuk menyelesaikan masalah bersama orang lain” –> kemampuan ini yang diperlukan untuk dapat “get along” dengan saudara kandung.
“Getting what you need from parent is easy. It’s getting what you want from friends than force child to develop social skill”

“The science of teen rebellion”
Menurut instinct:
Anak remaja yang alim dan menurut adalah model yang dijadikan tujuan orang tua. Anak harus menghormati orang tuanya sehingga tidak pantas untuk mendebat atau melawan apa yang direncanakan oleh orang tuanya. Bila remaja sering berargumen dengan orang tua untuk mempertahankan keinginan dan pemikiran mereka artinya mereka adalah anak remaja nakal dan salah didik

Menurut science:
Pada saat remaja, otak manusia belum berkembang dengan sempurna, sehingga sering kali emosi mengambil alih fungsi rasional otak. Pada saat dihadapkan dengan pilihan yang sudah jelas tidak baik untuk orang dewasa seperti “loncat dari atap”, remaja tidak secara langsung berpikir bahwa hal itu buruk. Selain itu, menurut mereka lawan kata dari bohong bukanlah jujur, melainkan argument. Remaja yang lebih sering berdebat dengan orang tuanya malah lebih jujur dan merasa pendapat mereka masih didengarkan.

Seharusnya:
Orang tua remaja tidak perlu membuat peraturan yang sangat banyak untuk mencegah anaknya dari masalah. Tetapkan be berapa aturan yang fundamental, dan persisten dalam menerapkannya. Jelaskan pula apa maksud dari aturan tersebut agar anak mengerti mengapa perlu melakukannya. Terbuka terhadap argumen anaknya dan siap untuk fleksibel selama tidak menentang aturan fundamental.

“Play well with others”
Menurut Instinct:
Anak yang baik adalah yang tidak pernah bermasalah dengan anak lain. Untuk itu orang tua lebih baik membatasi lingkungan anak agar anak tetap aman dan berada dalam lingkungan yang kondusif.
Video yang menunjukkan bahwa kekasaran tidak baik, membantu mengajarkan kepada anak agar tidak agresif. Anak yang suka mem”bully” teman adalah anak yang terlihat agresif atau dominan.

Menurut science:
Video yang menunjukkan bahwa kekasaran tidak baik, malah membuat anak semakin agresif. Hal ini disebabkan karena mereka cenderung mengikuti semua adegan, termasuk ketika tokoh2 di video tersebut berkelahi dan konflik. Selain itu, anak yang popular lah yang lebih suka melakukan tindakan agresif/bully. Karena membutuhkan empathy, dan social skill yang tinggi untuk mengerti bagaimana cara anak lain berpikir dan memilih cara yang tepat untuk menyerang anak lain.

Seharusnya:
Anak diberi ruang untuk berlatih bersosialisasi dengan lingkungan dan temannya. Beri kesempatan mereka untuk menyelesaikan masalah mereka dan berikan mediasi bila dibutuhkan. Kadang menjadi agresif juga diperlukan untuk mengembangkan social skill mereka, jadi orang tua tidak perlu mengharapkan anak yang sempurna baiknya.

Beberapa topik lainnya:
“The search for intelligence life in kindergarden” –> menunjukan bahwa test pada saat usia anak masih kecil tidak akurat. perkembangan otak anak tidak berjalan uniform dan kekurangan di satu bidang bukan berarti anak tersebut tidak brillian di bidang lainnya.

“Can self control be taught?” –> menunjukkan bahwa metode Vygotskian (The tools of mind) terbukti meningkatkan self control pada anak. Metode ini mengajak anak untuk melatih cara berpikir dan mengendalikan dirinya dalam role play. Pada saat mereka sedang berpura-pura menjadi orang yang tertembak, dia tidak boleh bangun sampai ada tim medis yang datang membantu.

Kesimpulan:
Buku ini menjelaskan bahwa dalam mendidik anak, 2 kesalahan yang mendasar , yaitu:
1.Menggunakan asumsi yang sama dengan pemikiran dan kebiasaan orang dewasa dalam mendidik anak.
Seperti bagaimana anak harus lebih banyak belajar daripada main, didasarkan pada pemikiran dewasa dimana main = tidak produktif. Padahal pada anak, ketika main, justru anak lebih mudah belajar dan membutuhkan sarana untuk menyalurkan energynya agar bisa berkonsentrasi.
Contoh kedua, dimana pada dunia kerja, pujian atas hasil kerja memunculkan motivasi intrinsik pada karyawan. Tapi hal ini berbeda untuk anak.

2. Menganggap bahwa sifat positif dan negatif adalah dua ujung dari spektrum yang sama. Akibatnya anak dikategorikan menjadi anak “baik” atau anak “nakal”. Dengan melindungi anak dengan hal positif (kelakuan baik, emosi positif) — hasilnya adalah anak yang baik dan terhindar dari hal buruk ( seperti mencuri, stress, peer pressure)
Kenyataannya sifat positif dan negatif memiliki spektrum sendiri-sendiri dan memiliki hubungan “orthogonal-mutually independent”. Untuk bisa berbohong dengan baik, anak harus memiliki kepandaian dan pemikiran yang tajam, kemampuan bersosial. Begitu pula ketika meminta anak untuk selalu jujur, tapi melarangnya mengatakan sebenarnya bila menyakiti hati orang lain.

Satu hal yang pasti untuk mendidik anak.. kita malah belajar banyak dari anak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s