Pilih proses atau hasil?


“Orang tua harus memilih dalam mendidik anak, memilih sekolah, apakah akan mengutamakan hasil (nilai akademis) atau proses (skill yang dibutuhkan untuk sukses). Tidak ada pilihan di tengah-tengah!”

Kalimat ini terus terngiang di kepala saya setelah mengikuti sesi acquitance dari highscope elementary Simatupang. Pemilik sekolah tsb, ibu Antarina, menegaskan dengan sangat jelas bahwa kita harus memilih. Selama ini saya berpikir bahwa saya pendukung “proses”. Tapi setelah dihadapkan dengan kenyataan bahwa SD di Bogor menuntut anak untuk bisa membaca sebelum masuk SD, membuat saya menjadi pendukung “hasil” —>apapun caranya, Fabian harus bisa baca. Bahkan saya merencanakan backup plan untuk memberinya les baca kalau sampai Desember ini masih belum ada tanda bahwa dia sudah bisa baca.

Pada saat ini, saya sudah menyebrang ke kutub satunya. Pendukung proses, yang sudah berubah menjadi fokus pada hasil. Dan ternyata saya tidak sendiri. Di pertemuan itu, semua orang tua yang hadir sangat khawatir dengan hasil. Pertanyaan yang dilontarkan adalah seputar nilai yang diperoleh anak highscope di Ujian Negara, dibanding dengan nilai anak sekolah lainnya apakah lebih tinggi, atau malah lebih rendah?

Walau mereka setuju bahwa proses pendidikan yang bersifat memaksa anak belajar dengan kecepatan dan scope yang sama tidaklah optimal untuk pendidikan anak, tapi ternyata nilai akademis masih menjadi perhatian orang tua. Ironisnya, mereka sudah sangat sadar bahwa nilai bukanlah penentu kesuksesan anak pada saat dewasa, tapi standard akademis masih penentu apakah anak itu pintar atau tidak.

Sebenarnya apakah pendukung proses seharusnya tidak peduli dengan hasil sama sekali?

Setelah saya renungi ternyata tidak berarti kalau pendukung proses tidak perlu mempedulikan hasil. Kesalahannya terletak pada standard apa yang harus diamati.

Metode yang mengutamakan hasil cenderung tidak memperhatikan bagaimana melatih orang untuk dapat mendapat kemampuan yang diperlukan untuk membuat hasil yang baik. Yang dilihat pertama adalah apa tujuan hasil akhirnya, lalu anak diajarkan langkah demi langkah bagaimana cara mendapat hasil yang serupa. Lalu langkah ini diulang terus sampai anak mahir melakukan hal yang sama. Karena pengulangan sangat membosankan, maka biasanya proses ini harus dipaksakan.

Di sisi lain metode yang mengutamakan proses, harus memecah terlebih dahulu, kemampuan apa yang diperlukan untuk mendapat hasil yang baik. Anak dilatih untuk memiliki kemampuan tersebut dengan berbagai metode dan topik, sehingga apapun masalah yang dihadapi, dia bisa menggunakan kemampuan yang sama.

Sebagai contoh dalam belajar menulis.
Metode yang menekankan hasil akan memberikan worksheet yang berisi kata-kata yang harus ditiru oleh anak. Satu kata atau kalimat harus ditulis ulang sampai berkali-kali. Anak para akhirnya memang akan mahir menulis kata tersebut. Tapi mereka sudah tidak tertarik untuk mencari tahu kata lain yang belum pernah diajari cara menulisnya. Alhasil untuk metode ini, latihan soal adalah cara paling jitu. Harapannya pada saat test, pertanyaan atau masalah yang ditanyakan sudah pernah diajarkan cara menyelesaikannya.

Metode yang menekankan proses, melihat bagaimana cara anak menulis, lalu kemampuan apa yang harus dimiliki agar dia bisa menulis. Untuk bisa menulis dibutuhkan serangkaian kemampuan dan pengetahuan lain. Yang pertama adalah kemampuan anak untuk mengendalikan tangannya (motorik halus). Kemampuan ini yang membuat anak bisa memegang alat tulis dan mengendalikan sesuai huruf yang akan ditulis. Yang kedua adalah kemampuan anak untuk mengenali pola dan bentuk huruf. Yang ketiga adalah kemampuan untuk berkonsentrasi dan mengerti bahwa tulisan adalah mewakili benda nyata (simbol) sehingga mereka bisa menghubungkan bahwa rangkaian huruf tertentu bisa mewakili suatu benda. Sehingga pada akhir anak tidak hanya bisa menulis kata yang pernah dia tulis saja, tapi menggunakan semua kemampuannya untuk segala jenis kata atau tulisan.

Semua kemampuan tersebut tidak melulu dilatih dengan cara latihan tulis. Misal untuk motorik halus, bisa dengan belajar menjahit, atau menggunting. Sehingga metode ini terlihat seperti tidak fokus untuk melatih menulis. Dan mungkin baru terlihat hasilnya pada saat anak mahir menggunakan semua kemampuannya. Hal ini yang mungkin membuat metode proses seperti kalah bersaing dengan metode hasil.

Jadi bagian yang sangat penting dalam metode proses adalah mendefinisikan kemampuan apa saja yang harus dikembangkan untuk mencapai hasil. Dan bagaimana mengukur perkembangan masing-masing kemampuan tersebut, sehingga bila ada hambatan, bisa diatasi dengan lebih cepat.

Hal ini juga dapat diterapkan di dunia kerja.

Pada saat kita melatih anak buah untuk melakukan pekerjaannya. Bila perusahaan hanya mengacu pada hasil pekerjaan, maka karyawannya tidak berkembang kemampuannya. Yang mereka akan lakukan adalah menggunakan hal yang sama dengan lebih baik, bukan mencari solusi yang lebih baik. Saya rasa itu yang membedakan antara perusahaan yang bagus dan terbagus.

Contohnya untuk mendapatkan peningkatan sales, kemampuan apa saja yang diperlukan. Negosiasi, melihat peluang bisnis, dll. Kemampuan ini yang harusnya menjadi fokus management untuk di latih dan dikembangkan, bukan hanya fokus ke bagaimana menjual.

One response to “Pilih proses atau hasil?

  1. halo mba salam kenal sekarang gimn kondisinya fabian sudah normalkah? anakku nadia 8thn jg tahun lalu patah lengan siku dipasang k wire n alhamdulillah sdh sembuh eh pas iduladha kemaren ktnya jatuh dr kursi pas di lgn yg pernah opresi lengannya langsung bengkak panik lgsung ke rs eh dokter yg mengoperasinya dulu lg libur pakai dr pengganti di suruh rongent hasilnya retak tp ktnya ga apa2 cukup pakai gendongan saja setelah seminggu kontrol ke dr langganan ktnya jg g pp cukup diistirahatkan tgannya sekarang sdh sebulan brlalu tgnnya blm bisa lurus kt dokter no need fisio anak2 dgn bermain ktnya akan bisa pulih sendiri tp klo 2 minggu lg belum bisa lurus baru kontrol ulang….doain yah semoga anakku bisa normal lg maaf malah curhat deh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s